Pada 2017, Ekspor Minyak Sawit Indonesia Mencapai Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah - senezik

Senin, 29 Januari 2018

Pada 2017, Ekspor Minyak Sawit Indonesia Mencapai Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah

Pada 2017, Ekspor Minyak Sawit Indonesia Mencapai Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah



Ekspor minyak sawit Indonesia sepanjang tahun 2017 tercatat sebesar 31,05 juta ton, naik 23 persen dibandingkan 25,11 juta ton pada tahun 2016.

Ekspor ini adalah minyak sawit mentah (CPO) dan turunannya, serta tidak termasuk biodiesel dan oleochemical.

Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Togar Sitanggang menyatakan, ekspor minyak sawit Indonesia naik 23 persen dari 25,11 juta ton pada 2016 menjadi 31,05 juta ton pada 2017.

Sumbangan devisa minyak sawit Indonesia juga meningkat. Ini seiring dengan kenaikan volume ekspor dan harga yang cukup baik.

Pada tahun 2017, nilai ekspor minyak sawit Indonesia mencapai 22,97 miliar dollar AS. Angka ini naik 26 persen dibandingkan pada tahun 2016 yang mencapai 18,22 miliar dollar AS.

"Nilai ekspor ini merupakan nilai tertinggi sepanjang sejarah ekspor minyak sawit Indonesia," jelas Togar dalam konferensi pers di Kantor Pusat GAPKI, Selasa (30/1/2018).

GAPKI pun mencatat, hampir semua negara tujuan utama ekspor minyak sawit Indonesia mencatatkan kenaikan permintaan. Adapun negara tujuan ekspor utama minyak sawit Indonesia adalah India, China, Pakistan, Banglades, AS, Uni Eropa, hingga Afrika.

Permintaan minyak sawit Indonesia dari India naik 32 persen. Sementara itu, permintaan dari China naik 16 persen, negara-negara Afrika 50 persen, dan Uni Eropa 15 persen.

Adapun permintaan dari Pakistan naik 7 persen, AS naik 9 persen, Banglades naik 36 persen, serta negara-negara Timur Tengah naik 7 persen.

Menurut Togar, industri sawit Indonesia pun masih mengalami sejumlah hambatan dagang dari beberapa negara. AS memberlakukan kebijakan antidumping atas produk biodiesel Indonesia.

Sementara itu, Resolusi Parlemen Uni Eropa menyebut pelarangan biodiesel berbasis sawit. Sebab, produk ini dinilai masih menimbulkan berbagai masalah, seperti deforestasi, korupsi, pekerja anak, hingga pelarangan HAM.

India pun menaikkan pajak impor minyak sawit dua kali lipat. Senat Australia juga kembali mengajukan RUU Competition and Consumer Amendment (Truth in Labeling-Palm Oil).

Togar menilai, hambatan dagang itu sangat ironis dengan kinerja ekspor yang masih meningkat signifikan. Ini menunjukkan minyak sawit masih merupakan minyak nabati yang sangat vital bagi dunia dan akan terus dibutuhkan sejalan pertumbuhan penduduk.

Upaya hambatan tersebut, imbuh dia, akan terus dilakukan karena persaingan dagang minyak nabati kian ketat. Oleh karenanya, pemerintah diminta jeli dalam melihat permasalahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Halaman